Sawit rakyat: apa, siapa, dimana, dan pemberdayaannya

Latar Belakang

Petani sawit kerap hanya sebatas tameng dalam industri sawit nasional. Terlihat, misalnya, pada argumen yang disampaikan pengusaha sawit menghadapi kritik. Atau, pada respon Pemerintah Indonesia terhadap keputusan Uni Eropa menghilangkan subsidi (baca: bukan memboikot!) biodiesel. Demikian juga ketika pemerintah menghapus pungutan ekspor sawit, yang notabene pemiliknya adalah korporasi, lagi-lagi petani sawit dijadikan alasan.

Ketika Presiden Joko Widodo meresmikan program biodiesel 30 persen (B30), kesejahteraan petani sawit juga disebut sebagai salah satu dampaknya. B30 pada intinya adalah subsidi kepada produsen biodiesel dari dana pungutan ekspor sawit oleh Badan Pengelola Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Pasal 93 Undang-Undang Perkebunan memang menyebut perihal penghimpunan dana pelaku usaha perkebunan, tapi penggunaannya sama sekali tidak menyebut industri hilir produk perkebunan. Apalagi, sepanjang 2015-2019 produsen biodiesel menerima subsidi Rp 38,7 triliun sementara petani hanya mendapat dana peremajaan Rp 0,7 triliun.

Merespon perkembangan di Eropa di atas, pemerintah menyebut petani sawit berjumlah 27 juta petani. Ketika meresmikan program B30, Presiden Joko Widodo menyebut jumlah petani sawit 16,5 juta petani. Sementara dengan memasukan juga pekerja sawit Gapki menyebut bahwa petani dan pekerja sawit sejumlah 17 juta. Sebagai referensi, Statistik Perkebunan Indonesia 2018-2020 mencatat luas perkebunan rakyat hanya 6,09 juta hektar. Dengan kata lain, mayoritas kebun sawit dikuasai oleh korporasi.

Kesimpangsiuran jumlah petani sawit, ketidaktepatan penikmat kebijakan, hingga kecenderungan melayani oligarki ketimbang petani sawit menjadi latar dilaksanakannya webinar Ngopini Sawit #3 Sawit Rakyat: Apa, Siapa, Dimana, dan Pemberdayaannya ini digagas.

Maksud

Mendorong akurasi dan transparansi data petani sawit sehingga menjadi basis yang kuat bagi kebijakan industri sawit nasional.

Narasumber dan tema presentasi

Waktu: Rabu, 30 September 2020 pukul 13.30 – 15.30 WIB.

Tempat: Live streaming di Youtube Auriga Nusantara.

Peserta

Kegiatan ini akan mengundang peserta merepresentasi parapihak persawitan, termasuk kementerian/lembaga negara, perusahaan/asoasiasi, masyarakat sipil, akademisi, dan pekebun.