[Mei 2020] Mengurai Peta Pemain Industri Sawit Nasional

Cerahnya prospek pasar minyak sawit menjadi pendorong peningkatan produksi berikut ekspansi perkebunan sawit, terutama karena minyak sawit sedemikian banyak dipergunakan untuk konsumsi. Minyak sawit dipakai untuk berbagai produk, seperti makanan, kosmetik, produk kebersihan, bahan bakar nabati. Setidaknya ada 200 jenis produk turunan minyak sawit (SPOTT, 2016). Karena bersifat massal, minyak sawit menjadi murah, namun juga mudah diproduksi, sertanya harganya relatif stabil.

Namun demikian, informasi mengenai struktur dan pemilik manfaat (beneficial owner) industri sawit Indonesia tidak serta merta terbuka. Apalagi, menurut kajian Komite Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), struktur pasar budidaya perkebunan kelapa sawit di Indonesia bersifat oligopolistik, atau hanya dikuasai oleh sekelompok pelaku usaha. Hal ini senada dengan kesimpulan kajian lainnya, seperti temuan TUK Indonesia (2018) yang mengkaji 25 taipan persawitan, pun temuan KPK (2016) yang menyebut 80% ekspor minyak sawit Indonesia dikuasai 30 perusahaan besar.

Ketidakterbukaan seperti ini tak hanya berakibat sulitnya melacak rantai pasok industri sawit, tapi juga merembet hingga tataniaganya. Lebih jauh, tidak terbukanya informasi pemilik manfaat korporasi persawitan pun membuka ruang monopoli dan persaingan usaha yang tidak sehat sehingga berpotensi mengancam perekenomian nasional dalam jangka panjang.

Beranjak dari situasi di atas, AURIGA bermaksud mendorong transparansi persawitan Indonesia. Tak hanya pada tingkat kebun, tapi juga industri hingga tataniaganya. Dalam kerangka itulah dialog Ngopini Sawit #1: Mengurai Peta Pemain Industri Sawit Nasional ini dilaksanakan.


Narasumber dan tema presentasi

Tanya Jawab: selengkapnya
 

Waktu dan lokasi: Senin, 4 Mei 2020, di zoom webinar


Peserta

Kegiatan ini diikuti peserta yang merepresentasi parapihak persawitan, termasuk kementerian/lembaga negara, perusahaan/asoasiasi, masyarakat sipil, akademisi, dan pekebun.