Produktivitas Minyak Mentah Kelapa Sawit Indonesia kalah Dengan Malaysia

Hampir satu dekade produksi kelapa sawit nasional melebihi negara-negara tetangga. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa permintaan minyak mentah kelapa sawit terus meningkat, tidak hanya di pasar domestik, akan tetapi juga di pasar global. Harapan yang tinggi dari menggairahnya pasar kelapa sawit kemudian timbul untuk membantu mendanai negara dan daerah dalam proses pembangunanya melalui pajak, retribusi, dan devisa.

Namun, rencana untuk mendorong peningkatan usaha perkebunan berbasis lahan ini masih terbatas pada luasan lahan yang dimiliki. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan tahun 2015-2017, luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia tahun 2017 berjumlah sekitar 12.307.677 hektar, dengan tingkat produksi mencapai 35,3 juta ton.

Beda cerita ketika berbicara soal Malaysia yang juga merupakan negara dengan tingkat produksi minyak mentah kelapa sawit terbesar di dunia, kedua setelah Indonesia. Berdasarkan data dari Malaysian Palm Oil Board, tingkat produksi minyak mentah kelapa sawit tahun 2017 mencapai 19.919.331 ton. Dengan luas lahan tanaman menghasilkan pada tahun itu mencapai 5,1 juta hektar, sementara lahan tanaman yang belum menghasilkan sekitar 700 ribu hektar. Jika dijumlah, luas lahan perkebunan kelapa sawit di Malaysia mencapai 5,8 juta hektar.

Tingkat produktivitas perkebunan kelapa sawit di Indonesia dihitung dari total luas lahan perkebunan secara menyeluruh sekitar 2,87 ton per hektar. Sementara Malaysia, yang juga memiliki peran yang besar di pasar minyak mentah kelapa sawit dunia, memiliki produktivitas sekitar 3,42 ton per hektar. Terdapat perbedaan yang cukup besar antara tingkat produktivitas kelapa sawit di dalam negeri dengan negara tetangga.

Merujuk pada artikel sebelumnya mengenai produksi minyak mentah kelapa sawit 2017 yang belum maksimal dari segi input bisa menjadi alasan kenapa tingkat produktivitas kita masih kalah jauh dengan tingkat produktivitas negara tetangga. Sebenarnya masih banyak celah untuk meningkatkan produksi, salah satunya adalah dari segi sumber daya manusia.

Recommended articles