Kebijakan Anti-Dumping Uni Eropa dan Indonesia

By , in Berita Sawit Highlight Sawit Dunia on .

Sejak 19 November 2013, Uni Eropa memutuskan untuk mengenakan bea masuk anti-dumping terhadap eksportir biodiesel Indonesia menyusul adanya dugaan praktik dumping yang dilaporkan oleh produser biofuel Eropa. Besaran tarif ditetapkan 8,8 persen untuk PT. Cilandra Perkasa; 16,9 persen untuk PT. Musim Mas; 16,8 persen PT. Pelita Agung Agroindustri; 20 persen untuk PT. Wilmar Bioenergi Indonesia dan PT. Wilmar Nabati Indonesia; 18,9 persen untuk perusahaan koperasi; dan 20,5 persen untuk perusahaan lainnya.

Kebijakan ini diimplemetasikan karena adanya dugaan akan dumping, dimana produser biodiesel Indonesia telah menerima harga minyak sawit yang lebih rendah dari harga pasar dunia. Demi melindungi industri biofuel di Eropa, kebijakan ini diberlakukan.

Pada 15 september 2016, pengadilan umum Uni Eropa menganulir kebijakan bea masuk anti-dumping sejak 19 November 2013 untuk perkara yang diajukan secara individual oleh lima perusahaan Indonesia terhadap Uni Eropa kepada Badan Penyelesaian Sengketa WTO. Keputusan ini mulai efektif sejak 5 Maret 2018.

Lima perusahaan yang dapat melakukan ekspor biodiesel ke Uni Eropa tanpa harus membayar bea masuk anti-dumping antara lain adalah PT. Cilandra Perkasa, PT. Wilmar Bioenergi Indonesia, PT. Wilmar Nabati Indonesia, PT. Musim Mas, dan PT. Pelita Agung Agroindustri.

Perusahaan-perusahaan lain yang termasuk dalam dugaan praktik damping oleh Uni Eropa yang tidak mengajukan gugatan tetap harus membayar bea masuk sampai dengan 20,5 persen atas ekspor biodiesel. Mengutip dari fact sheet EU, Perusahaan-perusahaan tersebut harus menunggu hingga 28 Oktober untuk pelaksanaan putusan Badan Penyelesaian Sengketa WTO.

Recommended articles